Lagi cek email setelah 4 hari ga ngecek -feels like forever xp- trus baca email dari salah satu senior gw di CIMSA yg cukup menggugah jiwa dan semangat gw.. Ngingetin -dan nyadarin- kalo manusia itu ga ada yg sama, tp punya kecenderungan untuk berbuat egois yg sama.. di mana byk bgt orang yg ngeselin -yes, they’re everywhere, n hey, it cud be me n u ;p- yg bikin kening mengkerut, keringat bercucuran, jantung berdetak lebih cepat, pupil berdilatasi -loh, kok jd gejala2 adrenalin meningkat?! hehe-
well, Allah memang Maha Adil, di mana ada hitam pasti ada putih, ada baik ada buruk, ada orang yg ngeselin ada yg baik, dan Dia punya maksud di SETIAP inci kehidupan ini.. So, klo ada hal yg ga enak di hidup lo, jgn berprasangka buruk dulu, it MUST be GIVE u sumthing in return!! trust me!
still cant figure out karena omongan gw ga meaning? check dis out! semoga menggugah semangat lo untuk hidup dengan jiwa POSITIF!!! x)
Orang Berengsek Guru SejatiĀ by Gede Prama
Entah apa dan di mana menariknya, Bank Indonesia amat senang mengundang
saya untuk menyampaikan presentasi dengan judul Dealing With Difficult People.
Yang jelas, ada ratusan staf bank sentral ini yang demikian tertarik dan
tekunnya mendengar ocehan saya. Motifnya, apa lagi kalau bukan dengan niat
untuk sesegera mungkin jauh dan bebas dari manusia-manusia sulit seperti
keras kepala, suka menghina, menang sendiri, tidak mau kerja sama dll.
Di awal presentasi, hampir semua orang bernafsu sekali untuk membuat
manusia sulit jadi baik. Dalam satu hal jelas, mereka yang datang menemui
saya menganggap dirinya bukan manusia sulit, dan orang lain di luar sana
sebagian adalah manusia sulit.
Namun, begitu mereka saya minta berdiskusi di antara mereka sendiri untuk
memecahkan persoalan kontroversial, tidak sedikit yang memamerkan
perilaku-perilaku manusia sulit. Bila saya tunjukkan perilaku mereka;
seperti keras kepala, menang sendiri, dll dan kemudian saya tanya apakah
itu termasuk perilaku manusia sulit, sebagian dari mereka hanya tersenyum
kecut.
Bertolak dari sinilah, maka sering saya menganjurkan untuk membersihkan
kaca mata terlebih dahulu, sebelum melihat orang lain.Dalam banyak kasus,
karena kita tidak sadar dengan kotornya kaca mata maka orangpun kelihatan
kotor. Dengan kata lain, sebelum menyebut orang lain sulit,
yakinlah kalau bukan Anda sendiri yang sulit. Karena Anda amat keras
kepala, maka orang berbeda pendapat sedikitpun jadi sulit. Karena Anda amat mudah
tersinggung, maka orang yang tersenyum sedikit saja sudah membuat Anda
jadi kesal.
Nah, pembicaraan mengenai manusia sulit hanya boleh dibicarakan dalam keadaan kaca mata bersih dan bening. Setelah itu, saya ingin mengajak Anda masuk ke dalam sebuah pemahaman tentang manusia sulit.
Dengan meyakini bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup adalah
guru kehidupan, maka guru terbaik kita sebenarnya adalah manusia-manusia
super sulit. Terutama karena beberapa alasan.
Pertama, manusia super sulit sedang mengajari kita dengan menunjukkan
betapa menjengkelkannya mereka. Bayangkan, ketika orang-orang ramai
menyatukan pendapat, ia mau menang sendiri. Tatkala orang belajar melihat
dari segi positif, ia malah mencaci dan menghina orang lain. Semakin sering
kita bertemu orang-orang seperti ini, sebenarnya kita sedang semakin
diingatkan untuk tidak berperilaku sejelek dan sebrengsek itu. Saya
berterimakasih sekali ke puteri Ibu kost saya yang amat kasar dan suka
menghina dulu. Sebab, dari sana saya pernah berjanji untuk tidak
mengizinkan putera-puteri saya sekasar dia kelak.
Sekarang, bayangan tentang anak kecil yang kasar dan suka menghina,
menjadi inspirasi yang amat membantu pendidikan anak-anak di rumah. Sebab,
saya pernah merasakan sendiri betapa sakit hati dan tidak enaknya dihina
anak kecil.
Kedua, manusia super sulit adalah sparring partner dalam membuat kita jadi
orang sabar. Sebagaimana sering saya ceritakan, badan dan jiwa ini seperti
karet. Pertama ditarik melawan, namun begitu sering ditarik maka ia akan
longgar juga. Dengan demikian, semakin sering kita dibuat panas kepala,
mengurut-urut dada, atau menarik nafas panjang oleh manusia super sulit,
itu berarti kita sedang menarik karet ini (baca : tubuh dan jiwa ini)
menjadi lebih longgar (sabar). Saya pernah mengajar sekumpulan anak-anak
muda yang tidak saja amat pintar, namun juga amat rajin mengkritik. Setiap
di depan kelas saya diuji, dimaki bahkan kadang dihujat. Awalnya memang
membuat tubuh ini susah tidur. Tetapi lama kelamaan, tubuh ini jadi kebal.
Seorang anggota keluarga yang mengenal latar belakang masa kecil saya,
pernah heran dengan cara saya menangani hujatan-hujatan orang lain. Dan
gurunya ya itu tadi, manusia-manusia pintar tukang hujat di atas.
Ketiga, manusia super sulit sering mendidik kita jadi pemimpin jempolan.
Semakin sering dan semakin banyak kita memimpin dan dipimpin manusia
sulit, ia akan menjadi Universitas Kesulitan yang mengagumkan daya
kontribusinya. Saya tidak mengecilkan peran sekolah bisnis, tetapi
pengalaman memimpin dan dipimpin oleh manusia sulit, sudah terbukti
membuat banyak sekali orang menjadi pemimpin jempolan. Rekan saya menjadi jauh
lebih asertif setelah dipimpin lama oleh purnawirawan jendral yang amat
keras dan diktator.
Keempat, disadari maupun tidak manusia sulit sedang memproduksi kita
menjadi orang dewasa. Lihat saja, berhadapan dengan tukang hina tentu saja
kita memaksa diri untuk tidak menghina balik. Bertemu dengan orang yang
berhobi menjelekkan orang lain tentu membuat kita berefleksi, betapa tidak
enaknya dihina orang lain.
Kelima, dengan sedikit rasa dendam yang positif manusia super sulit
sebenarnya sedang membuat kita jadi hebat. Di masa kecil, saya termasuk
orang yang dibesarkan oleh penghina-penghina saya. Sebab, hinaan mereka
membuat saya lari kencang dalam belajar dan berusaha. Dan kemudian, kalau
ada kesempatan saya bantu orang-orang yang menghina tadi. Dan betapa besar
dan hebatnya diri ini rasanya, kalau berhasil membantu orang yang tadinya
menghina kita.
Terakhir dan yang paling penting, manusia super sulit sebenarnya
menunjukkan jalan ke surga, serta mendoakan kita masuk surga. Pasalnya,
kalau kita berhasil membalas hinaan dengan senyuman,batu dengan bunga,
bau busuk dengan bau harum, bukankah kemungkinan masuk surga menjadi lebih
tinggi?
***
Sumber: Orang Brengsek Guru Sejati oleh Gede Prama
Leave a Comment
Leave a Comment
Leave a Comment